Akhirnya Pemuka gereja Ortodoks Rusia ini,Memilih jadi Muslim


Dr. Viacheslav Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978.
seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang “Reader” (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan).
Ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Setelah lulus dari seminari tahun 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), lalu diangkat menjadi pater.

Polosin bertugas menjadi pater di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otorita pemerintahan Soviet atas tuduhan membangkang pemerintahan komunis Soviet. Polosin lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di departemen penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow.
Juni 1988, ketika penindasan terhadap agama oleh pemerintah Soviet mulai reda, Polosin kembali menjadi pendeta di sebuah gereja baru yang nyaris roboh di kota Obninsk, wilayah Kaluzhsky, hingga ia dipromosikan menjadi imam agung pada tahun 1990.
Perjalanan karir Polosin sebagai pemuka agama semakin mulus. Pada bulan Maret 1990, Polosin terpilih sebagai deputi dan anggota Mahkamah Soviet Federasi Rusia, mewakili wilayah Kaluzhsky. Di Mahkamah itu, Polosin menjadi ketua bidang kebebasan beragama hingga tahun 1993. Semasa jabatannya, Polosin berperan dalam pembuatan undang-undang “Kebebasan Beragama”.
Sejak tahun 1990, Polosin ikut serta dalam pendirian gerakan Kristen Demokratik di Rusia. Ia sendiri duduk sebagai salah satu pengurus di gerakan tersebut sampai tahun 1993. Pada saat yang sama, Polosin menyelesaikan studinya di Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri Rusia dan mendapat gelar MA untuk bidang ilmu politik.
Aktif berpolitik, Polosin sudah meninggalkan kegiatan gereja sejak tahun 1991 dengan alasan sulit baginya untuk membagi waktu antara aktivitasnya di bidang politik dan agama. Setelah Mahkamah Soviet dibubarkan tahun 1993, Polosin menolak tawaran untuk kembali berkegiatan di gereja sebagai pendeta. Ia lebih memilih menjadi konsultan paruh waktu bagi Departemen Hubungan Internal Gereja, menjadi penasehat untuk pemerintahan negara bagian Duma yang tergabung dalam Komite Asosiasi Publik dan Organisasi Keagamaan.
Tahun 1999, Polosin meraih gelar setara dengan PhD setelah berhasil memperhankan thesisnya berjudul “Dialectics of a Myth and Political Myth Creation”. Setelah itu, Polosin banyak menulis artikel bertema keagamaan dan isu-isu agama-politik.
Salah satu buku karyanya adalah “Myth. Religion. State” yang mengupas tentang pengaruh mitos penciptaan pada perkembangan politik di masyarakat, serta keuntungan-keuntungan ideologi monoteistik untuk membangun sebuah negara.
Masih di tahun 1999, Polosin membuat pengumuman yang mengejutkan bahwa ia dan istrinya kembali ke monoteisme, kembali pada agama nenek moyangnya, dan memeluk Islam. Ia menggunakan nama islami “Ali” di depan namanya.
Setelah masuk Islam, Polosin terpilih sebagai salah satu ketua “Refakh” sebuah gerakan sosial dan politik komunitas Muslim di Rusia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi “Muslim Newspaper” yang diterbitkan pada tahun 1999.
Tahun 2003, Polosin terpilih sebagai presiden Persatuan Wartawan Muslim di Rusia, serta menjadi penasehat di Dewan Mufti Rusia.

Indahnya Berumah Tangga

Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri." Aih...
Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang disukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang di antaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum [30] : 21).
Menikah itu subhanallah indah, kata almarhum Ayah saya, dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah Suami dan Istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? Karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.
Namun sayang, tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.
Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta di antara Suami-Istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta Istri kepada Suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta Suami kepada Istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.
Saya jadi ingat, saat itu seorang Istri memarahi Suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang Suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi Istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi 'perang' hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, Suami malah mendaratkan 'sun' sayang penuh mesra di kening sang Istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu suaranya bertutur "Maafkan Mama ya, Pa..." Gegas ia raih tangan Suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali Suaminya datang.
Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang Suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia Istri yang dianugerahkan Allah, karena ia Ibu dari anak-anak. Ya, karena saya mencintainya," demikian jawabannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai, maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati. Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang Istri akan mengutamakan Suami dalam keluarga, dan seorang Suami tentu saja akan mengutamakan Istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai, maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a Istrinya agar Suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari Istri kepada Allahi supaya Suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan Suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada Istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadits nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah SAW yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada';
"Barangsiapa -di antara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari Istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barangsiapa -di antara para Istri- bersabar atas perilaku buruk Suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, Istri Fir'aun." (HR. Nasa-iy dan Ibnu Majah).
Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, patrikan firman Allah dalam ingatan, "Mereka (para Istri) adalah pakaian bagi kalian (para Suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka." (QS. Al-Baqarah [2] : 187).
Torehkan hadits ini dalam benak, "Sesungguhnya ketika seorang Suami memperhatikan Istrinya dan begitu pula dengan Istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala Suaminya rengkuh telapak tangan Istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa Suami-Istri itu dari sela jemarinya." (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a.).
Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, ingatlah ketika Suami mengharapkan Istri berperilaku seperti Khadijah Istri Nabi, maka Suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan yang paling mempesona adalah Istri yang shalehah, Istri yang ketika Suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika Suaminya menuntunnya kepada kebaikan, maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya. Jua tatkala Suami pergi, maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan Istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha Suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah Suami yang memuliakan Istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah Istrinya. Suami yang menjadi qawwam Istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan Istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki 'Surga'. Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka." (QS. At-Tahrim [66] : 6).
Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ke tepian. Karakter Suami-Istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang Mahalembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang Maha Menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana, tapi sampai ke sana, the real world 'Akhirat'. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

sumber : http://kotasantri.com/

Meneladani Upaya Para Sahabat Menggapai Surga.

Tak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan kerugian atau kegagalan. Sebaliknya, pasti mendambakan kesuksesan. Dalam Islam, indikator hidup sukses seseorang yang hakiki tidaklah diukur dari harta, pangkat dan kedudukan di dunia, melainkan apakah ia masuk surga atau tidak saat di akhirat kelak. Hal ini tercermin dalam QS Ali Imran 185. “…Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan”.
Saat kita meyakini bahwa sukses hidup yang hakiki adalah masuk surga, maka kita haruslah berusaha untuk menggapainya dengan segala daya upaya serta pengorbanan. Salah satu usaha itu adalah dengan meneladani para sahabat terdahulu yang hidup bersama rosul. Kenapa para sahabat? Karena para sahabatlah orang yang paling tahu dan jujur bagaimana mendapatkan surga. Sehinggga saat kita meneladaninya, maka kita tidak akan tersesat. Begitu pula, saat Alloh SWT menggambarkan sifat-sifat calon penghuni surga dalam ayat-ayat al-Quran, maka yang dimaksudkan adalah sifat para sahabat. Karena saat al-Quran turun, hanya para sahabatlah yang beriman kepada nabi.
Lalu, apa sajakah upaya para sahabat untuk menggapai surga dan kita perlu meneladaninya?. Salah satunya adalah sebagai berikut:

#1. Sahabat Selalu Membangun Iman dan Amal Sholeh
Al-Quran menyebutkan, syarat utama masuk surga adalah iman dan amal sholeh. Para sahabat sehari-harinya disibukkan dengan upaya memprioritaskan iman dan amal sholeh. Ada ungkapan yang terkenal, “Duduklah bersama kami agar kami beriman sesaat”.
Saat kita mengidamkan surga, maka iman haruslah menjadi guru dan komandannya. Apapun profesi kita. Baik sebagai guru, politikus, pengusaha, dan lain sebagainya. Seluruh aktivitas haruslah menjadi aset akhirat, berangkat dari mendahulukan iman dan amal sholeh.

#2. Sahabat Cepat Merespon Panggilan Alloh dan Rosulnya
Para sahabat adalah manusia biasa seperti kita. Mereka berkumpul bersama keluarga. Namun saat panggilan Alloh dan Rosul datang (sholat, jihad, zakat, dakwah, menuntut ilmu, dll) mereka cepat memenuhinya. Sifat mereka tercermin dalam QS al-Anfal 24.
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Alloh dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..”
Dikisahkan dalam sejarah, ada seorang sahabat berada di rumah bersama istrinya. Tiba-tiba ia mendapat panggilan jihad. Tanpa berpikir panjang, ia lompat dari tempat tidur dan berangkat sembari membawa pedang dan baju perang. Ia tidak sempat ‘mandi besar’ sampai ia meninggal dalam peperangan.  Ia diabadikan sebagai sahabat yang dimandikan oleh malaikat.

#3. Sahabat Selalu Terdepan Dalam Kebaikan
Banyak orang berbuat kebaikan, namun sahabat selalu berusaha di garda terdepan. Sifat ini tercermin dalam QS At-taubah 100.
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnua selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.
Para sahabat berusaha maksimal di garda terdepan dalam kebaikan. Tujuannya bukanlah ambisi menjadi penguasa, namun karena mereka memahami orang terdepan dalam kebaikan dan diikuti orang lain akan mendapat pahala lebih dari Alloh.
Dalam kisah perang tabuk. Umar bin Khatab bergegas datang kepada rosul menyerahkan separuh harta bendanya. Ia menginginkan sebagai yang pertama dan tidak mau kalah dari Abu Bakar. Namun, selang berikutnya Abu Bakar pun datang menyerahkan semua hartanya.

#4. Sahabat Berhijrah dan Jihad di Jalan Alloh
Para sahabat rela berkorban jiwa dan harta benda, demi berhijrah mempertahankan aqidah dan menyebarkan risalah islam. Dalam sejarah banyak peristiwa hijrah yang diikuti para sahabat yakni, hijrah Mekah-Madinah, Thaif, Syam, Mesir, Persia Iran, dll. Teladan bagi kita, dianjurkan berhijrah dan jihad sesuai syariat Islam. Hijrah dan Jihad bisa bermakna fisik maupun maknawi. Fisik bermakna perang, sementara maknawi meninggalkan apa yang dilarang agama dan bersungguh-sungguh menjalankan kebaikan.

#5. Sahabat Selalu Menjaga Istiqomah dalam Keimanan
Para sahabat adalah mereka yang berkomitmen terhadap ajaran islam di mana dan kapanpun berada. Tidak hanya di mesjid, namun dalam seluruh kehidupannya. Konsistensinya berakhir sampai ia meninggal dunia.  Sifat ini tercermin dalam QS al-fushilat 30.
” Sesungguhnya orang-orang yang berkata,”Tuhan kami adalah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),”Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”.

#6. Sahabat Selalu Memenuhi Janjinya kepada Alloh
Hidup pada hakikatnya adalah janji atau transaksi antara hamba dengan Tuhan-Nya, untuk berjuang di jalan Alloh meskipun dengan pengorbanan yang mahal baik jiwa maupun harta. Dan sahabat adalah mereka yang memenuhi janji ini. Alloh SWT menggambarkan sifat mereka dalam QS At-taubah 111,
“Sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai janji) yang benar dari Alloj di dalam Taurat, InjilN dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itu kemenangan yang agung”. 

#7. Sahabat Selalu Dimonitor Guru
Nabi selalu memonitor para sahabat. Nabi senantiasa menanyakan, siapa yang hapal al-Quran, siapa yang ber-shodaqoh, siapa yang tidak sholat berjamaah, dll. Ini mencerminkan bahwa dalam upaya menggapai surga haruslah ada sistem kontrol untuk menjaga semangat keislaman. Banyak cara untuk menciptakan sistem kontrol ini misalnya ikut pengajian dan dekat dengan orang-orang sholeh.
“Dikutip dari pengajian malam Minggu, 14 Mei 2011, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber: DR. Ahzami Samiun Jazuli MA” 

Kiat Memenangi Pertarungan Melawan Syetan

Sungguh, kehidupan tidak lepas dari pertarungan melawan syetan. Pertarungan yang tiada henti sampai azal menjemput. Pertarungan yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa pandang bulu. Hasilnya, manusia bisa menang atau kalah. Syetan pada dasarnya lemah, namun mereka memiliki peluang mengalahkan manusia, andai manusia lebih lemah daripada syetan. Sebaliknya, manusia bisa menang, manakala ia memiliki senjata yang sangat ampuh, yakni senjata IMAN.
Sangatlah berbahaya jika manusia tidak berbekal senjata IMAN. Karena kenyataannya, perang melawan syetan tidaklah berimbang. Syetan dari golongan jin bisa melihat manusia dan mereka saling bekerja sama (bergerombol) satu sama lain. Lalu, adakah kiat agar mampu memenangi pertarungan itu?. Kiatnya adalah sebagiai berikut:

#1. Selalu Memperbaharui Iman kapan dan dimana saja berada.
Sungguh syetan bersemayam dalam hati manusia. Saat manusia berdzikir kepada Alloh, syetan akan berlari. Namun, saat manusia lupa berdzikir, syetan datang kembali membisiki ke jalan kejahatan. Nabi memerintahkan untuk senantiasa memperbaharui iman. Sahabat bertanya bagaimana caranya? Nabi menjawab, perbanyaklah membaca, memahami dan mengamalkan laa ilaha illalloh.
Rosul dan sahabat saja, yang paling benar imannya, selalu memperbaharui iman mereka dengan berbagai cara. Misalnya berzikir, pengajian, sholat jamaah, jihad, dan lain sebagainya. Tidak ada waktu yang tersisa, untuk memberikan kesempatan syetan menjegal kehidupan kita. Hadirkanlah selalu iman kapan dan dimana kita berada. Iman tidak hanya hadir di mesjid, namun ia hadir dimana-mana dalam aspek kehidupan.
Kita patut belajar dari kisah dialog antara pengembala kambing dengan Umar bin Khatab. Seorang pengembala sapi yang notabene memiliki tingkat intelektual yang relatif rendah, namun memiliki nuansa keimanan yang sangat tinggi. Saat pengembala dites keimananannya oleh sahabat Umar bin Khatam untuk dibeli kambingnya. Umar berkata, “Bilang saja kepada majikanmu, kambing dimakan serigala”. Pengembala pun berkata, “Dimana Alloh?”.  Mendengar jawaban ini, Umar pun menangis.

2.Mentadabburi al-Quran
Kiat kedua untuk memenangi pertarungan dengan syetan adalah mentadabrui al-Quran. Dalam berbagai ayat al-Quran, dikatakan bahwa merenungi dan menghayati al-Quran akan berkorelasi dengan penambahan iman dan otomatis syetan akan menjauh. Ketika berinteraksi dengan al-Quran, maka iman akan bertambah. Dan inilah yang membedakan antara orang beriman dengan munafiq. Orang iman akan bertambah imannya, sementara orang munafik bertambah penyakit nifaqnya, sampai mati dalam keadaan kafir.
Attaubah 124.
“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”.
Jadi, merenungi al-Quran merupakan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan makan dan minum. Saat tidak makan, bahaya ektrimnya adalah sakit. Sementara, kalau tidak tadabur al-Quran, konsekwensinya bukan hanya mati secara fisik namun juga hati nurani. Hati akan terkunci untuk menerima nasehat dan akhirnya mati dalam keadaan kafir. Qs Muhammad 24, “Maka tidaklah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”
Dalam kondisi hidup yang penuh dengan fitnah, diharuskan kita selalu mentadaburi al-Quran. Karena inilah sumber energi yang akan hadir untuk mengalahkan syetan. Imam Ahmad bin Hambal, seorang sholeh, saat diminta bantuan merukyah seseorang yang kesurupan jin. Sang Imam tidak bersedia datang. Ia cukup mengirimkan sandalnya. Dan syetan pun langsung lari.

3. Komitmen untuk Selalu Berjamaah dengan Orang-orang yang Benar dan Jujur
Kiat ketiga adalah berkomitem untuk selalu berjamaah dengan orang benar dan jujur dalam aqidah, ibadah dan akhlaq. Sebagaimana tercantum dalam QS at-taubah 119. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar”
Orang yang sendirian akan relatif mudah terperangkap tipu daya syetan dan tenggelam dalam perbuatan haram. Awalnya coba-coba namun akhirnya menjadi kebiasaan. Saat syetan menggoda manusia, sebagian mereka saling mendukung kelompok lainnya, sehingga kalau manusia sendirian, maka syetan akan mudah menjadi pemenang.
Dalam islam, apa saja yang berjamaah, memiliki pahala yang besar, misalnya sholat berjamaah, makan berjamaah, bepergian berjamaah, dan lain-lain. Berjamaah akan memberikan kekuatan dan sinergi satu sama lain. Seorang mukmin akan kuat karena disebabkan saudaranya. Jangan bingung  memilih ‘label’ jamaah. Karena dasar pemilihan jamaah berdasar tuntutan al-Quran dan Hadits bukan atas dasar label, namun berdasarkan kriteria yakni mereka yang benar dan jujur.

#4. Memahami Islam secara Mendalam
Kita keempat adalah memahami islam dengan mendalam. Tidak mungkin orang bodoh akan memiliki iman kuat sehingga memenangi pertempuran dengan syetan. Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa dikehendaki Alloh baik, maka ia diberi pemahaman islam baik”. Syetan akan menyerah saat berhadapan orang yang berilmu (paham), karena seorang faqih akan mengetahui tipu daya syetan.
Ayat pertama al-quran yang turun menyeru tentang pemahaman (ilmu) bukan solan jihad, sholat, dan ibadah lainnya. Karena semua ibadah tidak akan diterima Alloh SWT  kalau tidak didasari ilmu yang dimiliki. Jadi jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.
Jangan pernah bosan memahami islam, sebagai modal melawan syetan yang  tidak pernah berhenti menggoda manusia sampai qiamat.  Perbanyak kajian yang didasari kesadaran diri bahwa pertarungan dengan syetan tidak akan pernah berhenti. Dan semoga kita dimudahkan mencintai ilmu al-Quran, Sunah dan bersama orang-orang yang sholeh.
“Dikutip dari Pengajian Malam Ahad, 8 April 2011, Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, Narasumber: DR. Ahzami Samiun Jazuli”

Wasiat Rosul Tentang Taqwa, Taubat dan Akhlaq Baik


islam terbaik1Ada satu hadits Nabi yang cukup masyhur dan sering kita dengar, berisikan wasiat beliau kepada umatnya, yakni sebagai berikut:
” Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringkanlah perbuatan jahat itu dengan perbuatan baik, mudah-mudahan yang baik itu akan memadam yang jahat. Dan bergaullah kepada manusia dengan akhlaq yang bagus. “
Penjelasan singkat dari hadist ini adalah sebagai berikut:

Wasiat #1. Bertaqwalah Kepada Alloh Di mana Saja Kamu Berada
Istilah taqwa sering kita dengar, bahkan sudah hapal artinya. Yakni, melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagian ulama mengartikan Taqwa sebagai sikap Wara’ (hati-hati), sebagaimana tercermin dalam kisah Abdullah ibnu Mubarak, seorang penjaga kebun anggur.
Suatu ketika, saat buah anggur telah membesar, sang majikan meminta Abdullah Ibnu Mubarak memetikkan anggur masak untuknya. Lantas Abdullah memetik anggur dan memberikannya kepada majikan tersebut. Setelah dicicip, ternyata buah anggur tersebut rasanya asam. Karena asam, sang majikan menyuruh kembali untuk memetik anggur lain. Abdullah pun kembali ke kebun, memetik dan memberikan anggur yang lain. Ternyata, anggur ini pun rasanya asam. Sampai tiga kali majikan menyuruh memetik anggur dan selalu yang diberikan Abdullah rasanya asam.
Sang majikan marah, dan berkata, “Kenapa engkau tidak bisa membedakan mana anggur yang manis dan mana yang asam?”. Abdullah menjawab, “Saya tidak bisa membedakan rasa, karena saya hanya disuruh menjaga dan memelihara kebun anggur, tidak pernah saya disuruh mencicipi apalagi merasakan anggur”. Inilah sikap wara’ atau hati-hati yang tercermin dari sikap Abdullah ibnu Mubarak, dan sebagian ulama mengartikan Taqwa sebagai sebagai sikap wara.
Kisah lain tentang taqwa dapat kita pahami dari dialog Umar bin Khattab ra dengan Ubay bin Ka’ab ra. Umar bin Khattab ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra : “ Tahukah kamu apa itu taqwa ? “ Ubay bin Ka’ab ra balik bertanya : “ Pernahkah kamu berjalan di suatu jalan yang penuh duri ? Lalu apa yang akan kamu lakukan ? “ Umar menjawab : “ Saya akan berhati-hati. Saya teliti dengan seksama dan saya lihat tempat berpijak. Saya majukan satu kaki dan saya mundurkan kaki lainnya khawatir terkena duri “. Ubay berkata : “ Itulah taqwa “.
Sikap taqwa yang diwasiatkan rosul dalam hadits di atas, haruslah berlaku kapan saja dan dimana saja kita berada. Taqwa harus tercermin saat berada di mesjid, rumah, tempat bekerja, sekolah, dan lain sebagainya. Jangan hanya bertaqwa di saat sulit, namun lupa saat dikasih kelebihan rizki. Taqwa haruslah dibangun di mana saja, sampai saat beribadah sekalipun. Misalnya saat melaksanakan sholat, puasa, haji, zakat, dll, taqwa berarti memperhatikan syarat dan rukun dari ibadah tersebut.

Wasiat #2. Ikutilah Keburukan Dengan Kebaikan
Wasiat nabi kedua dalam hadits ini adalah ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan. Maksudnya perbanyaklah taubat dan amal sholeh sebagai cara untuk menghapus dosa yang telah diperbuat. Setiap manusia pasti tidak luput dari dosa, dan setiap dosa akan terhapus jika pelakunya melakukan taubat dan amal sholeh.
Ucapan istighfar (taubat) akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, begitu pula antara sholat satu ke sholat lainnya, antara sholat jum’at ke jum’at lainya, antara puasa Romadhan yang satu ke yang berikutnya, antara umrah dan umrah, akan menghapus dosa di antaranya. Untuk itu, perbanyaklah taubat dan amal sholeh lainnya, karena ia akan menghapus dosa.

Wasiat #3. Bergaullah orang lain dengan akhlaq yang baik
Jika wasiat #1 dan #2, terkait hubungan antara manusia dengan Alloh, maka wasiat yang ke #3 terkait hubungan antara manusia dengan manusia (misalnya istri, suami, anak, orang tua, tetangga, saudara, teman, dll). Belumlah dikatakan sempurna iman seseorang, kalaulah akhlaq (tutur kata dan sikap)-nya belum baik. Sesorang yang berakhlaq baik akan dicintai dan disenangi orang lain. Sebagaimana tersirat dalam do’a nabi Ibrahim as;
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikianlah uraian singkat dari salah satu hadits nabi yang berisikan wasiat beliau tentang taqwa, taubat dan akhlaq baik.


“Sumber: Pengajian Sabtu Shubuh, 18 Desember 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur”

Michele Ashfaq: Islam itu Indah dan Sederhana



Ada kata bijak yang mengatakan, satu teladan yang baik lebih ampuh dari seribu nasehat. Kata bijak itu ingin menggambarkan bahwa memberi memberi contoh dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, akan meninggalkan kesan yang lebih dalam pada pada orang lain, dibandingkan jika kita mengumbar banyak kata dan memberi nasehat


Itulah dialami Michele, perempuan asal New York, yang mengenal dan akhirnya tertarik dengan Islam karena ia terkesan dengan karakter lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Lelaki muslim itu bukan cuma mengajarkan etiket dan kebersihan, tapi juga memberikan contoh yang riil pada Michele lewat perilakunya sehari-hari.

“Ia hanya bercerita banyak hal tentang Islam, tapi saya sendirilah yang kemudian mulai membaca buku-buku Islam yang dikirim oleh bapak mertua sekarang dari Pakistan. Itulah awalnya saya merasa ingin tahu apa itu Islam,” ujar Michele Ashfaq yang sebelumnya menganut agama Katolik.

Sebelum mengenal Islam, Michele mengaku melalui fase kehidupan yang tidak terarah. Ia bingung apa lagi yang harus dilakukannya selain dibesarkan sebagai seorang Katolik, selain meyakini ajaran agamanya dan berdoa. Dalam kebingungannya itu, Michele sempat pindah jamaah, ia mengikuti jamaah Gereja Baptis bersama dengan kakek-neneknya.

“Ketika berumur 17 atau 18 tahun, saya mengalami peristiwa aneh. Ia sedang dalam pernjalanan ke gereja Katolik ketika tiba-tiba seperti ada yang membisikkan padanya agar jangan masuk ke dalam gereja,” ujar Michele.

Sejak itu, ia mulai merasa enggan datang ke gereja. Sekalinya datang, ia pasti terlambat sampai di gereja, atau ada saja hal yang membuatnya batal pergi ke gereja.
“Kalau saya kaji lagi ke belakang, sungguh luar biasa bahwa semua itu terjadi untuk sebuah alasan. Saat itu saya dalam keadaan binging dan tidak tahu sama sekali tentang Islam. Saya orang yang naïf dan tidak tahu apa-apa tentang agama lain. Yang saya tahu, waktu itu saya tinggal di sebuah kota yang sangat terpencil di sebelah selatan Virginia Barat bersama kakek-nenek saya. Dan hidup saya hanya ke seputar gereja-rumah, rumah-gereja,” papar Michele.

Seperti diceritakan di atas, Michele mengenal Islam dari lelaki muslim asal Pakistan yang kini menjadi suaminya. Selanjutnya, Michelle belajar tentang Islam sendiri dari buku-buku yang dibacanya.

Michelle mengaku sangat terkesan dengan kesederhanaan Islam. “Islam itu sederhana dan mudah. Itulah yang membuat saya tertarik pada Islam. Saya bisa membaca dan memahami Al-Quran. Berbeda sekali ketika saya di gereja, kami tidak disarankan membaca Alkitab atau buku-buku untuk dipahami. Kami hanya disuruh mendengarkan saja apa yang diceramahkan pendeta. Kala itu, saya yang justru banyak mengajukan pertanyaan,” imbuh Michele.

Dua hal yang ia tanyakan dengan serius ketika itu adalah tentang pengakuan dosa dan mengapa ia harus meyakini Yesus sebagai juru selamat. Ia masih ingat bagaimana ibunya memaksanya agar menemui pendeta di gereja dan melakukan pengakuan dosa seperti yang dilakukan umat Katolik pada umumnya. Bagi Michele, tradisi itu sangat aneh. “Untuk apa saya datang ke seorang laki-laki dan mengakui dosa-dosa saya. Saya tahu dia pendeta, tapi dia bukan ayah saya!” tukas Michele. Di usianya saat itu yang masih remaja, ia merasa tradisi itu tidak benar.

Lalu, soal keyakinan Yesus sebagai juru selamat bagi orang Katolik. Michele mempertanyakan bagaimana dengan para pengikut Nabi Ibrahim, orang-orang yang ada sebelum Yesus datang. “Kalau mereka bilang jika saya tidak meyakini Yesus maka saya akan masuk neraka, lalu bagaimana dengan orang-orang sebelum Yesus ada? Padahal Ibrahim juga seorang nabi dan punya juga punya pengikut,” ujar Michele.

Itulah dua pertanyaan besarnya tentang ajaran Katolik, dan ia merasa tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dan masuk akal. Dari sisi spiritual, situasi itu membuat Michele frustasi.

“Tapi saat-saat yang paling membuatnya frustasi adalah ketika ia tidak bertemu dengan suami saya. Saya betul-betul tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tidak tahu kemana untuk beribadah, waktu terasa berjalan sangat lambat, dan saya bertanya pada Tuhan, mengapa semua ini terjadi, mengapa saya jadi tidak bisa mau lagi ke gereja, saya bahkan pernah bercita-cita ingin jadi biarawati,” tutur Michele.

Kegelisahan Michele itu terjawab ketika Michele mendalami agama Islam. Ia berujar, “Ketika Anda mempelajari agama Islam, rasanya seperti sedang belajar bagaimana Anda menjalani kehidupan sebagai manusia,” tukas Michele, Hal lainnya yang menjawab semua kegelisahan Michele adalah salat memberkan sedekah atau kunjungan.

Dari mulai masuk Islam hingga sekarang, sudah 12 tahun Michele memeluk Islam. Ibu yang dikaruniai tiga anak dan bekerja sebagai guru kelas satu SD di North Carolina ini menyatakan bahwa Islam telah membawa perubahan berbeda bagi dirinya.

“Sulit menjelaskan dengan kata-kata tentang perbedaan yang saya alami setelah masuk Islam. Kedamaian yang saya rasakan dalam Islam, sangat luar biasa. Saya punya hubungan langsung dengan Allah Swt,” ujar Michele.

“Namun perbedaan yang paling besar adalah adalah saat membaca Al-Quran. Al-quran berisi petunjuk dan nasehat, jika punya pertanyaan pun ada jawabannya dalam Al-Quran. (oi)

ChatBox

 

Anda Pengunjung ke

Site Info

free counters

Tuker Link..

yuk mari tukeran link.. monggo di copas link di bawah ini..
kalau sudah, mohon kirim pemberitahuan ke gadissenja92@yahoo.com biar ane juga bisa masang link ente

salam, jingga..

Text

create your own banner at mybannermaker.com!
Copy this code to your website to display this banner!

Islam my religion, my pride, everything in my life... Copyright © 2009 Template is Designed by Jingga